Malam itu..
Aku sedang berbaring sambil memeluk guling kesayangan yang telah tidak karuan bentuknya, dengan mata yang tengah tertutup dan mimpi yang telah siap menyambut, tiba-tiba terdengar suara telfon masuk.
Aku malas membuka mata, apalagi harus melepas pelukan dengan guling kesayangan, hih enak saja! Tapi suara telfon itu tidak berhenti-henti, mungkin karena sudah hening sehingga suara itu begitu sangat menggangu.
Tidak ada pilihan, aku harus mengangkatnya..
Ternyata yang menelfon adalah dia mantanku, sempat diam karena bingung diangkat atau dibiarkan saja, tapi karena aku takut ada hal penting yang mau dibicarakan jadi aku angkat.
Yang pertama dia katakan yaitu menanyakan kabar, aku jawab dan balik menanyakan kabarnya. Ternyata kabarnya tidak sebaik yang aku kira, dia akhirnya banyak menceritakan hal yang terjadi setelah kami putus.
Sejujurnya aku malas mendengar itu semua, karena menurutku itu tidak lagi penting.
Setelah berpuluh-puluh menit berlalu..
Aku meminta dia untuk menutup telfonnya dan segera tidur, mataku sudah kalah dengan kantuk tapi dia memohon untuk tetap mendegarnya.
Ternyata dia ingin memberitahu bahwa sebentar lagi dia akan menikah.
Aku senang mendengarnya, sungguh.. karena memang itu do'a yang selaluku panjatkan. Aku selalu meminta agar dia, orang yang pernah sangat aku sayang untuk segera menikah.
Tapi tiba-tiba..
"Aku nggak pernah sebahagia kaya waktu pas masih sama kamu." katanya.
Aku cuma bisa ketawa, belum selesai ketawa..
"Seandainya aku bisa kembali ke masalalu." katanya lagi.
Aku diam tidak tau harus bilang apa, tapi dalam diam itu aku kirim pesan pada Tuhan agar dia bahagia dunia dan akhirat, segera punya keturunan soleh dan solehah, serta selalu menjadi abdi negara yang dapat diandalkan, dan yang paling penting agar segera bisa lupa dengan masalalu.
Karena masalalu itu sendiri pun sudah lama melupakannya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar