Sabtu, 28 Maret 2015

Tahukah Kamu?

Tahukah kamu, apa yang membuatku selalu tersenyum di kala bangun dari lelap?
Tahukah kamu, mengapa jiwaku ini selalu semangat di setiap menjalani hari?
Tahukah kamu, siapa yang selalu menguasai pikiran serta khayalanku?

Setelah selesai urusanku dengan kesedihan, kini aku mulai membuka hati.
Setelah berlama-lama bersama kesenderian, kini aku merasa ramai denganmu.

Kehadiranmu telah merubah segalanya,
Andai di sore berselimut mega itu kita tak berjumpa, 
Mungkin aku masih saja bertemankan sepi.

Memang saat ini kita tak mungkin menyatukan rasa,
Tapi asa yang kita punya telah mengalir dalam satu kosa.
Memang saat ini kita tak mungkin sujud di atas sajadah yang sama,
Tapi doa yang kita panjatkan selalu saling membalas nama.

Kamulah jawaban atas setiap setengah lingkaran terbuka ke atas di bibirku.
Kamulah raga yang menyempurnakan aku tanpa melihat banyaknya kurangku.
Kamulah kisah impian yang kini menjadi nyata.

Entah nantinya akan seperti apa,
Bisa saja aku dan kamu menjadi kita,
Mungkin juga hanya akan begini-gini saja.

Entah akhirnya akan seperti apa,
Bisa jadi aku dan kamu akan selamanya,
Mungkin juga hanya sementara.

Namun tak apa,
Yang aku tahu pertemuan ini membuat aku dan kamu bahagia.




Terima kasih untuk kamu,
B.A.P

Jumat, 27 Maret 2015

Menggaruk Senja

Senja tadi mengupas keangkuhan yang selama ini menjadi bagian diriku.
Entah mengapa bisa aku berlama-lama menjalani hidup dengannya.
Keangkuhan itu menapaki setiap perjalanan hingga aku berdiri di sini,
Saat ini.

Sepintas bayangmu hadir lalu menatap heran ke arahku.
Tanpa seuntai kata,
Apalagi senyum bahagia.
Hanya ada sepasang bola mata yang seakan memiliki seribu tanya.

Apa yang sedang mengacaukan pola pikirku?
Imajinasi dan ide-ide yang terlahir adalah buram bahkan porak-poranda.
Sehingga bayangmu hadir dan menggaruk senjaku.
Yang semu seakan nyata dan sebaliknya.

Mungkin saja..

Karena kita pernah tertawa di bawah langit senja,
Kita pernah saling bermanja-manja di sana,
Kita bahkan pernah mengikat janji untuk selalu setia.

Tapi apa?

Menghilanglah dari senjaku,
Menghilanglah dari setiap rasa sakit hatiku,
Menghilanglah dari hidupku yang tak lagi utuh.

Selasa, 24 Maret 2015

Tak lagi ada.. Tak lagi sama..

Mengering rasa yang dulu mengalir dengan derasnya,
Berhenti asa yang dulu berlari dengan cepatnya,
Apa yang membuat aku yang sekarang dan dulu berbeda?
Mungkin kamu penyebab utamanya.

Perlahan melepas, merelakan hingga berhasil melupakan,
Keberhasilan itu bukan hal mudah,
Ada keluh serta kesah yang setia menemani,
Ada tanya dan tetesan air mata yang selalu menghampiri.

Mungkin kamu tahu pasti,
Apa saja yang masih bisa dirasakan meski kamu tak lagi ada,
Apa saja yang masih bisa aku peluk saat rindu menyiksa.

Semua masih sama,
Masih pada tempatnya,
Masih selalu aku pandangi hingga terlelap.

Hanya kamu yang tak lagi ada, 
Hanya kamu yang tak lagi sama,
Hanya kamu yang mampu membuat aku tinggi dan terjatuh.

Jatuh..
Jatuh..
JA..TUH..

Jumat, 20 Maret 2015

Dulu vs Kini

Dulu, malam adalah waktu yang selalu aku tunggu..
Namun setelah kamu pergi, malam menjadi waktu yang sangat aku benci.

Dulu, di saat malam tiba selalu ada kamu temani aku melewati ribuan detik..
Namun setelah kamu pergi, di saat malam tiba hanya ada kesunyian.

Kini, semua hal indah itu tinggal kenangan.
Kini, semua hal indah itu aku simpan rapih di hatiku.

Ini mungkin yang dinamakan "cinta"..
Terasa sangat manis,
Namun dapat berubah menjadi tangis.

Sabtu, 07 Februari 2015

Semoga Bahagia

Malam itu.. 
Aku sedang berbaring sambil memeluk guling kesayangan yang telah tidak karuan bentuknya, dengan mata yang tengah tertutup dan mimpi yang telah siap menyambut, tiba-tiba terdengar suara telfon masuk.
Aku malas membuka mata, apalagi harus melepas pelukan dengan guling kesayangan, hih enak saja! Tapi suara telfon itu tidak berhenti-henti, mungkin karena sudah hening sehingga suara itu begitu sangat menggangu.

Tidak ada pilihan, aku harus mengangkatnya..
Ternyata yang menelfon adalah dia mantanku, sempat diam karena bingung diangkat atau dibiarkan saja, tapi karena aku takut ada hal penting yang mau dibicarakan jadi aku angkat.
Yang pertama dia katakan yaitu menanyakan kabar, aku jawab dan balik menanyakan kabarnya. Ternyata kabarnya tidak sebaik yang aku kira, dia akhirnya banyak menceritakan hal yang terjadi setelah kami putus.
Sejujurnya aku malas mendengar itu semua, karena menurutku itu tidak lagi penting.

Setelah berpuluh-puluh menit berlalu..
Aku meminta dia untuk menutup telfonnya dan segera tidur, mataku sudah kalah dengan kantuk tapi dia memohon untuk tetap mendegarnya. 
Ternyata dia ingin memberitahu bahwa sebentar lagi dia akan menikah. 
Aku senang mendengarnya, sungguh.. karena memang itu do'a yang selaluku panjatkan. Aku selalu meminta agar dia, orang yang pernah sangat aku sayang untuk segera menikah.

Tapi tiba-tiba..
"Aku nggak pernah sebahagia kaya waktu pas masih sama kamu." katanya. 
Aku cuma bisa ketawa, belum selesai ketawa.. 
"Seandainya aku bisa kembali ke masalalu." katanya lagi. 
Aku diam tidak tau harus bilang apa, tapi dalam diam itu aku kirim pesan pada Tuhan agar dia bahagia dunia dan akhirat, segera punya keturunan soleh dan solehah,  serta selalu menjadi abdi negara yang dapat diandalkan, dan yang paling penting agar segera bisa lupa dengan masalalu. 

Karena masalalu itu sendiri pun sudah lama melupakannya..